Sabtu, 16 Juni 2012

Peran Keluarga dalam Pembentukan Moral



Keluarga dan Ironi Moral Generasi Bangsa



Sungguh menjadi sebuah ironi ketika kita tengok sejenak pada realita yang terjadi di Indonesia. Bagaimana tidak, melihat perkembangan kualitas moral manusia-manusia di Indonesia yang semakin lama terlihat kian merosot dan terdegradasi. Sebut saja sebagai contoh semisal semakin maraknya tindak kejahatan, pelecehan seksual, semakin merebak dan maraknya praktek KKN, serta berbagai macam tindak kriminalitas lainnya. Hal ini tentu berimbas terhadap memudarnya karakter bangsa. Dengan fakta yang sedemikian ini tentu memunculkan pertanyaan dalam benak kita yakni apa gerangan yang terjadi dengan manusia-manusia penerus bangsa ini?



Selain itu, fakta bahwa moral generasi muda yang seakan-akan terjangkiti virus dan penyatkit akut sungguh sangat memprihatinkan dan memiriskan hati. Moral para pemuda terlihat semakin jauh dari nilai dan norma ketimuran. Mereka cenderung lebih suka mengikuti model pergaulan bebas dengan tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku. Narkoba dan prilaku seks bebas sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan muda-mudi Indonesia saat ini.



Fakta terbaru yang berkembang belakangan ini adalah ternyata salah satu penyebab utama rusaknya moral putra-putri bangsa justru disebabkan oleh pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi, semisal semakin mudahnya akses penyebaran video-video berbau porno. Mudahnya akses teknologi saat ini yang diharapkan berdampak positif bagi kemajuan pendidikan mereka ternyata malah menjadi bumerang. 



Oleh karenanya, kualitas suber daya manusia di Indonesia yang semakin memprihatinkan ini, terlebih generasi muda indonesia, haruslah benar-benar diperhatikan secara seksama. Karena semangat merekalah nantinya yang akan menjadi roda penggerak bagi bangsa ini, semangat merekalah yang menjadi pemicu sekaligus sumbu utama berkobarnya api semangat Indonesia. Apa jadinya kelak ketika bangsa Indonesia dihuni oleh manusia-manusia yang tak berkarakter dan tak bermoral? Sungguh tidak dapat dibayangkan.



Nah, dalam pembentukannya, karakter dan moral seorang anak tidaklah berkembang menjadi sedemikian rupa dengan sendirinya. Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor tertentu, yakni faktor bawaan dan faktor lingkungan. Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius –seorang filsuf terkenal Cina– menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi. Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.



Yang menjadi pertanyaan mendasar kemudian adalah menjadi tugas siapakah untuk memajukan kualitas moral generasi muda bangsa ini? Apakah ini adalah tugas bagi para guru bangsa, kiai, ataukah pemerintah? Yang jelas jawaban paling bijak adalah sudah barang tentu hal ini menjadi tugas kita segenap warga Indonesia untuk ikut serta berperan aktif dalam meningkatkan kualitas moral generasi muda terlebih peran keluarga (para orang tua) dalam mendidik moral putra-putrinya. Mereka tidak bisa cuci tangan atas kenakalan, kemerosotan, dan kerusakan moral anaknya. Selain diri sang anak sendiri, lingkungan keluarga dan orang tua adalah yang paling ikut bertanggung jawab atas pembentukan karakter dan moral anak.



Peranan Keluaga dalam Pembentukan Moral: Sebuah Solusi

Bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya dalam pembentukan kepribadian anak (tentunya dengan pola asuh yang benar pula). Keluarga memiliki peranan yang sangat signifikan dalam mewujudkan kualitas moral para penerus bangsa. Betapa tidak, lignkungan keluarga dan orang tualah yang menjadi teladan sekaligus guru pertama dalam pembentukan moral anak. Pendidikan dan teladan yang diserap dari lingkungan keluarga dan orang tua sangatlah melekat dalam pribadi anak kelak. Mereka memiliki tanggung jawab besar terhadap pembentukan kepribadian sang anak. 



Seperti yang dikatakan dalam sebuah ungkapan: “lebih baik satu kali contoh daripada lima kali nasihat.” Setidaknya dari ungkapan tersebut dapat kita simpulkan bahwa selain menjadi teladan, sikap yang ditunjukkan oleh lingkungan keluarga dan orang tua sangatlah berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kepribadian anak.



Terdapat beberapa hal yang menjadi tanggungan atau kewajiban orang tua dan lingkungan keluarga dalam membentuk karakter dan moral anak. Salah satunya adalah selalu menghimbau sang anak untuk berbuat baik dan menghidarkannya dari perbuatan tercela. Disadari atau tidak, semua perbuatan dan tingkah laku orang tua akan ditiru dan menjadi pelajaran dasar yang sangat mudah diserap oleh anak.



Seperti yang dikatakan dalam sebuah ungkapan; “pendidikan semenjak kecil laksana mengukir di atas batu.” Teladan dan pendidikan yang diterima semenjak kecil dilingkungan keluarga akan berbekas dalam pribadi anak kelak. Dengan demikian, apabila kita menginginkan terbentuknya kepribadian dan moral yang baik pada anak tentunya pelajaran dan teladan yang baiklah yang harus dicontohkan. Dan oleh karenanya, sungguh tidak bijaksana sebuah keluarga yang mengajarkan kepada anak-anaknya baik secara langsung maupun tidak langsung contoh-contoh perbuatan tercela semisal berbohong dan yang semacamnya.



Dalam Islam sendiri, bahkan juga dalam semua agama, terdapat suatu perintah kepada para orang tua untuk selalu mengarahkan dan memberikan pendidikan yang baik terhadap putra-putrinya. Seperti yang disebutkan dalam sebuah riwayat “Tak ada seorang bapak pun yang dapat memberikan kepada anaknya satu pemberian yang lebih berharga dari pada pendidikan yang baik.” Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi orang tua dan lingkungan keluarga, sebagai guru pertama, untuk menanamkan nilai-nilai luhur dalam pribadi putra-putrinya, guna kelak menjadi manusia-manusia yang bermoral dan berbudi pekerti baik. Mungkin, dengan upaya pembenahan dan penanaman nilai-nilai moral terhadap sumber daya manusia sejak dini, menjadi kunci yang daoat mengentaskan krisis moral yang mendera bangsa ini. Semoga.



0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More